Showing posts with label Syair. Show all posts
Showing posts with label Syair. Show all posts



Apakah kau jengah?
Apakah kau berdarah?
Apakah kau ingin menyerah?
Ataukah kau lelah setelah berjuang dengan susah payah?
Dengar, Kau tidak salah.

Kau ditinggalkan?
Kau dicampakkan?
Kau diacuhkan?
atau kau dihancurkan dengan rasa kecewa yang melahirkan sakit tak tertahankan?
Dengar, Kau tidak salah.

Kepergian adalah pilihan.
Kekecewaan adalah pelajaran.
Mereka berhak untuk memilih.
Tapi setelahnya, kau akan berangsur pulih serta terlatih.

Biarkan hujan dalam hatimu jatuh
Biarkan luka-lukamu itu terbasuh
Sebab cinta yang nyata akan segera tumbuh
Menggenapimu untuk menjadi manusia yang utuh.

Angkat dagumu
Bukalah matamu
Lihatlah siapa yang selalu setia di sampingmu
Saat bahkan dunia enggan melihat ke arahmu.

Duhai engkau yang terpatahkan
Maafkanlah masa lalu untuk masa depan
Bukalah pendengaran agar kau benar-benar merasakan
Bahwa engkau tidak sendirian, dan engkau

mengagumkan.


-Zhafir





Seseorang menemukan rumah baru.
Seseorang masih memangku dagu.

Seseorang berhenti disana.
Seseorang seharusnya bahagia.

Air mata semesta.
Igauan manusia.

Kesedihan tanpa logika.
Tertawa dalam tiada.





Tetes terakhir peluh telah jatuh
Pada titian jarak temu yang semakin jauh
Pada aksara-aksara rindu yang semakin gaduh
atau pada heningnya sepi yang kini terasa sangat membunuh.

Saya terpisah jauh dengan realita
Tersesat merana dalam teka-teki asmara
Mencari waras di sela-sela kalimat mesra
dan biarkan dunia tetap mengira saya baik-baik saja.

Saya lelah.
Saya jengah.
Memapah rindu yang kehilangan arah.

Saya berdarah.
Saya menyerah.
Menggapai hati yang tak tahu caranya melangkah.

Warna-warni harapan itu membiaskan fatamorgana
Membuat saya rela menggadaikan kepala dan isinya
Mengedepankan hati atas lika-liku luka
Hingga saya jatuh terkapar tanpa bisa mengendalikan apa-apa.

Saya tertawa.
Sebab air mata telah habis tak tersisa.
Saya bahagia.
Sebab luka membuat mata saya terbuka.

Saya melihat bintang di wajah gulita.
Saya melihat pelangi di langit utara.
Saya menengadahkan cinta dan akhirnya menuai percaya
Bahwa keindahan akan terbit di puncak kesabaran manusia.

Di ujung realita , selalu ada kata yang pandai merayu mesra
Seolah mengajak berdansa di atas kertas yang digelitiki pena
Mengisah juang tentang seorang petualang aksara
Yang berhenti mencari cahaya dan memutuskan untuk menjadi salah satunya.




Di sela-sela jemari malam
atau pada bibir rembulan yang kian suram
Saya menatap lebih jauh dari biasanya
Tersesat lebih jauh dari semestinya

Jauh...
Jauh...
Dan tak ada yang menetes tangis..

Pergi...
Sendiri...
Menyulam benci di atas hati yang miris..

Saya ingin tertawa selayaknya
Menggores cerita semaunya
Terbang memacu jejak.
Hilang memicu gerak.

Diantara sajak dan kalimat bijak
Sepucuk sapa menyeruak pada permukaan jarak
Tentang perempuan suci penabur gelak
Yang hatinya ranum meski sedikit galak.

Hadirnya adalah suatu ketetapan
Kasihnya adalah suatu kepercayaan
Tingkahnya adalah alasan untuk segala senyuman
Dan hatinya adalah tempat saya menitip segala harapan.

Tapi tipu tatapnya tetap jadi pesona dunia.
Sesiapa yang menatapnya , niscaya hancur pertahanan hatinya.
Dan sesiapa yang mampu membencinya , Pastikan! jiwanya tidak sedang pada tempatnya.

Hai , Nona...
Saya Zhafir K Akalanka.







Sejuta syair telah termaktub , namun rahangmu tetap saja tertutup.

Hening..
Tak bergeming..

Penat saya merindu dalam diam.
Lelah saya menyendu dalam diam.
Gusar saya mengadu dalam diam.
Diam dan diam saya melihat harapan yang diam-diam selalu kau diamkan.

Saya selami hatimu yang terdalam , namun saya tenggelam.
Saya daki egomu yang paling tinggi , namun saya terhempas ke bumi.
Saya susuri tali pikiranmu yang paling rumit , namun saya terlilit.

Kau...
Benar-benar wanita...
Yang pandai mengemudi rasa...

Dengan hati saya mencintai , sampai hati kau melukai.
Dengan cinta saya memberi hati, sampai melukai kau tak punya hati.
Larik-larik sajak ini ,
benar-benar hampir membunuh penciptanya sendiri.

Atau seperti malam yang sudah-sudah ,

Saya hanyalah sebuah langkah,
yang kehilangan arah.
Dan kau adalah rumah,
Yang putih , bersih dan tak sudi terciprati darah.

Kau katakan saya bisu saat dirimu sendiri jelas-jelas tunarungu.
Kau katakan saya tak berbuat apa-apa saat dirimu sendiri jelas-jelas tunanetra.
Tapi mengapa setiap dusta tak ubahnya selalu bisa membuat saya semakin cinta?

atau , izinkan saja saya bermalam di sudut hatimu yang dingin itu Nyonya.
Menutup mata untuk malam ini saja atau mungkin

selamanya.




Saya pernah menari-nari di atas lantai kebodohan yang megah beratapkan dosa ,
Tertawa buta bertingkah semaunya, seolah bumi tiada pernah ada pemiliknya.
Berbangga diri mengais dosa yang selalu saya anggap kenikmatan tiada tara ,
Hingga urat sadar saya terputus menjuntai diantara bayang-bayang neraka.

Kepalsuan yang saya pelihara , atau kekosongan arah yang tiada pernah sudi saya raba ,
Telah menyeret saya hina ke tepian bimbang antara logika , rasa dan agama.
Saya terdampar penuh luka lantaran dibunuh tanya , yang kokoh menjulang tak terlampaui mata.
Tentang apa-apa yang membuat saya sedemikian hampa, merenungi hidup manusia yang tak satu kepala-pun tahu tujuannya.

Di puncak kegelapan mata , saya melihat cahaya kecil yang sedikit malu-malu untuk menyapa ,
Yang indah berbinar tatkala saya kidungkan sembilan puluh sembilan Nama kepunyaan Yang Maha Esa.
Ia sesekali tersenyum menggemaskan ,  Seolah mengajak saya berjalan , menapaki kerasnya hati pada lembutnya Kasih sayang Tuhan.

Waktu-pun diam.
Pelita berbinar di langit temaram.
Kelam menjelma tenteram.
Gelora bimbang padam.
dan saya tersungkur menangis sangat dalam pada pelukan islam.

Tapi..

Celaka-lah saya bila di SisiNya tak ada lagi ruang untuk manusia khilaf yang ber-sandalkan bimbang , yang pernah mengambang remang-remang berpeluh kesah menyulam langkah demi mencari jalan pulang , Jalan pulang yang ber-Tuhankan Ar-Rahmaan dan ber-pintukan ampunan untuk  kesalahan yang jumlahnya tiada sanggup saya lukiskan.

Maka...

Duhai Allah Yang Maha Memberi Ampunan
Tiada-lah kebahagiaan bila Engkau tak memaafkan ,
Tiada-lah kemuliaan bila Engkau telah menghinakan ,
dan tiada-lah keselamatan bila Engkau tak membukakan jalan.

Duhai Allah Pemilik Asma’ul Husna
Lunakkan-lah apa yang angkuh bersemayam di antara rusuk dan iga ,
Ampunkan-lah kesalahan-kesalahan yang tak terlukis jumlahnya ,
dan Bimbing-lah setiap langkah yang selalu pandai menorehkan dosa.

Duhai Allah Yang Maha Keras Siksanya 
Jangan-lah Engkau kunci pintu hati saya untuk KasihMu yang selalu menyapa ,
Jangan-lah Engkau sesatkan langkah saya ketika sesungguhnya tiada lagi penolong di manapun saya akan berada ,
dan jangan-lah Engkau siksa saya atas keberhasilan iblis menyesatkan saya.

 
atau biar-lah saya binasa ,
Terkubur hina membawa segenggam percaya ,
Bahwa kasih sayang Engkau , melebihi segala murka.



Duhai Allah
Di bawah NamaMu, do’a mencapai palung.
Di atas JalanMu , saya inginkan pulang.




Bogor , 09/Juni/2018 
(25 Ramadhan) 
02:00 Pagi

-Zhafir K Akalanka






Langit utara berbias cahaya.
Terbit memancar dari mata wanita yang kehilangan timurnya.
Terkadang dipersenda oleh lembayung senja ,
Atau terbenam sebatang kara di bawah pentas asmara.

Sunyi..
Sepi..
Ia menangis sendiri.

Hati..
Hati-hati..
Tangan gagah akan datang dan pergi..

Benci..
Ia benci..
Sebab ia tak mampu membenci.

Ada berjuta kidung yang kadang mampu membuat langit saya terbelah ,
Penuh terbendung bersama air mata yang sedikit malu-malu untuk tumpah.
Di antara sajak indah dan kalimat-kalimat yang berdarah ,
Ia tegas bersumpah atas nama rumah.

Tapi sekarang..

Saya melihat cinta dalam labirin pikirannya ,
Menyudut lara berpangku rasa menunggu hujan yang tak kunjung reda.
Sendu berteman kopi yang sedikit dicampur vanilla
atau ,
do’a-do’a mesra yang entah siapa tuan-nya.

Ada rindu di pelukan bunda ,
Ada kasih di dalam hati saya ,
Tapi..
Ia tidak disana ,
Ia tidak tahu apa-apa ,
Dan saya tidak mengerti kenapa.

Kemudian Tuhan tersenyum di malam sepertiga.
Malaikat-malaikat menangis dalam tasbihnya.
Bergetar-lah jadinya singgasana Raja ,
Disambangi do’a-do’a mesra yang tercipta dari air mata bunda.

Untuk ananda ,
Yang tak kunjung nampak batang hidungnya.

Dari bunda ,
Yang mungkin takkan lagi nampak pucuk senyumnya.

Lalu ia lalu lalang mencari jalan pulang.
Ia ingin terbang , namun sayapnya hilang.
Ya Tuhan..
Rindu menjerit bukan kepalang ,
Dalam rasa bersalah yang ber-dinding bimbang.

Linang air matanya tak kunjung berhenti.
Luka hatinya silih berganti.
Ia terduduk meratapi diri ,
Memapah sesal yang liar berlari-lari.

Di sudut nestapa , ada malaikat congkak yang tengah menyulam puisi.
Urat bahagianya mati , tapi hatinya bak pelangi.
Dalam luka , ia adalah alumni.
Dalam cinta , ia adalah pemimpi.

Tiba-tiba terdengarlah teriakan dalam sunyi ,
Yang ia sangkakan itu adalah milik seorang bidadari.

Tapi ia heran setengah mati ,
Untuk apa bidadari turun ke bumi?

Ia tahu sesuatu sedang terjadi
dan ia tahu ,
ia tak bisa untuk tidak peduli.

Diam-diam malaikat itu menghampiri.
Dalam diam bidadari itu menangis lagi.
Berhenti..
Cukupi..
Kau jelek bila bersedih hati!

Kerap kali ia membuatnya tertawa geli ,
Tak jarang pula membuatnya terbakar emosi.
Dalam do’a , malaikat itu labuhkan sejuta semoga.
Dalam-dalam , sesuatu dalam hatinya dipendam.

Mereka laksana bumi dan langit.
Terpisah , namun tak bisa dipisah.
Bersama-sama melengkapi struktur semesta ,
atau bersama-sama hancur dan binasa.

Kemudian bunda kembali menggetarkan singgasana Raja.
Kembali pula bidadari itu menitik air mata.
Malaikat itu mengiba memberikan sayapnya ,
Hingga bidadari itu ceria pada segenggam percaya.

Di alinea ini ,
Fitri benar-benar tinggal menghitung hari.
Luka-luka biar-lah bosan sendiri.
Sebab perpisahan pasti akan berganti silahturahmi.
Tapi rindu ini...

ah..

tetap saja tak tahu diri.

Teruntuk bidadari yang kehilangan sayapnya ,
Kau adalah kerancuan asmara yang selalu berujung tanya.

Teruntuk wanita di penghujung senja ,
Kau adalah kerumitan rasa yang bergelimang makna ,

Yang akan saya rangkum dengan kata paling sederhana.

Semoga”.



Bogor , 
6/6/2018
- Zhafir K Akalanka






Sepucuk saja padahal rasanya cukup
Usah-lah Nyonya tebar menyeluruh untuk hasrat yang telah bergemuruh
Nanti Nyonya lelah
Nanti Saya patah

Saya berada diantara luka dan sajak
Memaku pasak enggan menimbul gerak
Tapi andai saya rindu  Nyonya , adakah Nyonya serupa?
Atau jangan-jangan rimba hati Nyonya telah tandus dan berganti warna?

Bisik lembut semilir senja menyayup mesra
Mengisah juang tentang malam yang melahap terang
Tentang rasa Nyonya yang bertabur bimbang
Atau milik saya yang tak kunjung lekang

Tapi waktu terus saja angkuh menggilas segala cerita
Ia berjalan dan terus mengikis milik kita
Kembang kempis jadinya paru-paru saya
Meratap dan terus memohon untuk sehidup setia

Lalu Nyonya kemudian ingkar rasa
Kedap kedip saya tiada percaya
Apa yang menyembuhkan saya
Akhirnya malah membunuh saya

Saat kusingkap hati , Nyonya malah lari
Saat kupungut puing-puing rasa , Nyonya malah menikam penuh lara
Aral saya dibayang-bayang bimbang Nyonya
Melangkah tak bisa , melepas tak rela.

Sungguh petaka bila sesuatu berubah tiba-tiba
Entah keadaan atau para pelakunya
Entah rindu atau rasa dalam hatinya
Macam Nyonya dan cinta piatu saya

Mengapa Nyonya tak kunjung percaya
Pada saya yang selalu tegak dibelakang Nyonya
atau pada rasa yang telah sudi memilih jatuh di pelukan Nyonya?

Saya pelihara rasa untuk Nyonya dengan taruhan nyawa
Saya dekap mesra setiap racun-racun yang dikeluarkannya
Saya meratap memohon menghinakan kepala
Hingga saya mampu terjatuh dengan segala kerelaan dalam sepucuk senyuman.

Tapi kemudian malah Nyonya ludahi saya dengan acuh seolah saya bukan manusia
Seolah saya kebal akan luka
Seolah suara saya tak akan habis oleh jerit angkara
Seolah saya memiliki dua nyawa
Seolah saya binatang hina yang tak sudi Nyonya raba.

Dosa besarkah saya mencintai Nyonya?
Sampai-sampai berharap , kini rasanya sangat gelap


Bogor ,
21 May 2018


“wahai yang bersemayam di dalam rasa dan diriku
engkau jauh dari penglihatan dan pandangan
engkau adalah ruhku jika aku tak memandangmu
dia lebih dekat denganku dari segala pendekatan”

angan-angan tentang dirimu ada di mataku
ingatan tentang dirimu ada di mulutku
tempat kembalimu ada di mulutku
tapi kemanakah engkau hilang dariku?

wahai yang bersemayam di antara perut dan iga
sekalipun tempat tinggalmu berjauhan dariku
kasih sayang tercurah untuk senantiasa mencinta
jika engkau tiada menggapainya ia akan membumbung

ku cari alasan dari dosa yang ku lakukan
tapi kau paksa aku menjadi pemutus tali
kau bawa pergi akalku di kesempitan jurang
setelah aku berumur akal itu kau bawa kembali
itulah cinta kami yang berdampingan
engkau telah mensigati dengan adil dan jeli

Ya RABBI…..

kusibukkan dia dengan cintaku
seperti ENGKAU sibukkan hatiku dengan cintanya
agar menjadi ringan apa yang bersemayam di hatiku..

aku memohon kepada dzat yang membalikkan keinginan
hasratku kepadamu dan hasratmu kepadaku
atau biarkan cinta mengalir di hatiku…

“ada kafilah yang berlalu menjelang malam
jalan berdebu dan malam merambat kelam
mereka menggiring hasrat menyatu dengan bumi
perjalananpun tenggelam di balik ambisi

bintang malam menuntun yang mereka harapkan
yang menggantung di atas bintang dan kenikmatan
dalam pemeliharaan yang tidak di dapat orang lain
tak peduli celaan orang yang suka melontar celaan “

“ku ingin memeluknya di saat hati sedang merindukan
adakah kedekatan setelah kami saling berpelukan
kucium mesra agar kerinduan itu sirna
keinginan untuk bertemu semakin membara
kobaran di hati belum jua terobati
kecuali setelah dua hati saling mengisi”

“tiba-tiba dia melihat sang kekasih
tak sepatah katapun terucap dari lidah”

“tanda cinta yang menyusup ke dalam hati
ada yang berubah jika dia melihat yang di cintai”

“jika ku lihat panasnya cinta di dalam hati
ku cari pancuran air untuk mendinginkan
berikan padaku kedinginan air yang pasti
karena dalam perut ada api yang menghanguskan”‘

“Aku tidak tahu apakah pesonanya yang memikat
atau mungkin akalku yang tidak lagi di tempat”

“keindahannya pangkal segala keindahan
dan magnetik laki-laki yang memandang”

“cinta bukanlah karena keindahan dan yang tampak di mata
tetapi karena yang menyatukan hati dan jiwa”

“ada getaran yang merasuki jiwa yang murah hati
layaknya getaran dahan kerana angin yang sepoi-sepoi”

“Engkaulah pembantai setiap pemabuk cinta
pilihlah untuk jiwamu siapa yang kau pilih”

“Cintaku bersemi apa pun dirimu
tak peduli keadaanmu dulu dan kini
kau tak peduli kepadaku dan akupun begitu
siapa tak pedulikan dirimu hendak memuji
aku menyukai mereka sekalipun dirimu seperti musuhku
penilaianku terhadapmu sama terhadap mereka aku menilai
kudapatkan kenikmatan jika ada yang melecehkanmu
biarkan orang mencelaku karena cinta telah terpatri”


- Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah




Senandung malam menggema di langit temaram.
Hati saya melayangkan kidung kerinduan pada sayap-sayap harapan yang saya reka dari deras air mata , saya pahat dengan sepenuh asa dan segenap rasa ,
kemudian saya hiasi dengan cinta dan seluruh percaya.

Maka Nyonya  ,
biar kata kita telah berbeda dunia ,
sudi-lah sekiranya untuk sekedar membuka telinga ,
agar kemudian juang saya tidak sia-sia
dan hati saya tidak lagi tersenyum setengah muka.

Apa kabar engkau disana duhai pemilik mata sayu mustika lukisan hati saya?
Adakah air mata yang mesti saya seka?
Adakah peluh yang mesti saya basuh?
Adakah luka yang mesti saya kecup dengan penuh mesra?
Atau
Adakah lelah yang sudah barang tentu pasti akan saya izinkan untuk rebah?

Senja ini , saya ingin bercerita kepada Nyonya , tentang rindu saya yang nakal tiada dua,
Tentang layur lara seorang anak manusia yang kehilangan timurnya,
Atau tentang rupa sewujud nyawa yang pernah kita bentuk atas cinta dan percaya.

Kemarin , saat Nyonya tertidur di malam sepertiga , diam-diam rindu saya terbang mengecup kening Nyonya ,  membelai mesra jelita wajah Nyonya , dan melukisnya pada langit semesta dengan pena milik hati saya.
Saat fajar tiba ,  gemetar hebat saya dimarahi hati saya tentang pena yang mana saya tahu tintanya hilang kemana.
Jadi-lah hati saya tak bisa lagi melukis seorang-pun wanita.

Duh.



Terkadang rasa tak sopan berpendar
Entah karna senyuman elok yang terbias atau karna imaji yang menjadi jadi 
Bagaimana semua ini bisa menjadi? 
Tak ada yang mengerti 

Logika terkapar tak berdaya 
Hanya rasa yang bekerja 
Hingga saat dua tatap saling bertemu 
Seketika dunia tersipu 
Laksana pangeran terpaku dan membisu pada cinderella yang ayu 

Namun hatinya t'lah berpenghuni 
Tak ada ruang untuk menitip rasa ini 
Aku mengerti kecanggungan ini pasti terjadi 
Tapi hati tak mengenal batasan 
Lirih rasa merana dan nelangsa 

Menghadap dua pilihan mematikan Antara berdosa atau tenggelam





Tibalah saya kembali teringat Nyonya
Pada hari setelah genap 4 tahun Nyonya melepas nyawa
Tersudut-lah saya berpangku rasa dalam getar gemuruh hampa
Teguh memegang cinta laksana merpati yang tak pernah ingkar rasa.

Kematian Nyonya tak ubahnya kehancuran bagi saya.
Langit saya terbelah,
Bumi saya retak,
Tiada lagi berisi , tinggal koyaknya sahaja.

Terkatung-katung-lah saya terlempar kesana-kemari macam anak komedi
yang berseri-seri didepan layar , tapi menangis dibelakang layar.

Cita-cita kita tiada sekejap-pun sempat bersua
Hilang-lah akhirnya separuh waras saya
Tidur tak lelap , makan tak kenyang
Raga disini , Ruh dimana.

Biar-lah saya bermukim di persimpangan nestapa sebatang kara
Menolak sadar akan pahitnya realita
Memeluk tetap bayang dan harum Nyonya
Meski kadang tahu betul bahwa Nyonya tiada disana.

"Tiap-tiap celaka pasti-lah ada guna"
Ucap cakrawala.
"Hujan jatuh , yang indah tumbuh"
Ucap semilir senja.
Sia-sia-lah Kanda memutar timur saya.
Tak ada guruh untuk si tuli , dan tak ada kilat untuk si buta.

Hari berlalu , tapi tidak dengan saya
Waktu bergulir , tapi tidak hati saya
Semayam tetap nama indah Nyonya
Yang tak lapuk di hujan , tak lekang di panas.

Restui-lah saya dalam sendiri
Timang-menimang harapan yang tak tentu pasti
Memupuk sedu dan terus meyakini
Bahwa esok hari Nyonya pasti-lah kembali.


Bogor ,  26 April
03:36 WIB




Detak detik waktu melambai tangan
Termangu saya pada ketiadaan
Timang-timang mesra memelihara sebuah nama
Yang entah hatinya sedang tertuju pada siapa.

Maju mundur pula jadinya langkah dikau Nyonya
Hilang tak bisa , ada pun tak nampak rupa
Mustahil cinta saya men-derita-kan Nyonya
Tiada-lah katak melahirkan ular.

Duh , Rindu nian saya bersahut mulut dengan Nyonya
Sepatah dua patah kata pun jadi.
Petang terasa terang
Terang terasa senang.

Tiba-lah Nyonya memilih mundur
Mencari cinta dengan strata yang setara
Termakan ketakutan bapak sebegitunya
Inginkan hidup enak berjubahkan rupiah.

Demikianlah saya , Nyonya
Si beku pemilik cinta , penjunjung tinggi nilai-nilai agama
Tiada berlembaga , emas pun tak punya
Hidup terapung tak hanyut , tenggelam tak basah.

Tapi , Nyonya...

Tiada bukit yang tak dapat didaki
Tiada lurah yang tak dapat dituruni
Mustahil mawar berhasil dicengkram tanpa darah
Katak berenang , pasti-lah basah jua.

Hati saya merengek meminta saya menggerakkan pena ,
Untuk Nyonya yang tak kunjung nampak batang hidungnya.
Kemudian saya tatap cakrawala ber-laut-kan senja
"adakah hamba kan baik-baik saja?"
Segenap keyakinan saya kumpulkan
Akhirnya saya tuai jua sepatah bismillah.

Tapi saat saya gores ujung pena itu
maju-mundur lah kepala saya
gemetar hebat ruas-ruas jari saya
Sesak sangat nafas saya
hilang pula akal saya.

Berat-lah sangat rasa ini , Nyonya
Langit terjunjung , palung pun terselam
Tertumpang saya di biduk tiris
Tapi merpati tiada pernah ingkar janji.

Jangan Nyonya benci saya lagi
Tiada-lah cinta bila hanya satu sisi
Semakin sanggup Nyonya saya cinta
Sanggup pula Nyonya membunuh saya.


Bogor,  25 April , 2018
00:00 WIB



Ringkih asa ber-alun metafora
Penjuru maya bertebar wanita
Amboi , manisnya perhiasan dunia
Pening kepayang hamba berkeringat dosa.

Celaka daku! Celaka daku!


Lari-lah daku ke tepian
Kusut kasut tergores bebatuan
Mencari sadar dibalik pepohonan
Disitulah daku dibimbing Tuhan.

Demikianlah; Daku , Tuan.

Corak-carak warna penghujung zaman
Dindingnya berlapis kegilaan
Buhul-buhul iblis dihempaskan
Halus menghunus berdarahkan penyesalan.

Duh , mustika Adam lekat sangat dengan kesalahan.

Tapi , Tuhan berjanji ,Tuan.
Pabila pandai memelihara iman
Mengais mesra sunnah dan Al Qur'an
Syaithan pun hilang waras berkawan ketakutan.

Demikianlah ; Tuhan , Tuan.

Wanita jangan Tuan sakiti
Patah sekali , pantang tumbuh dua kali
Julang belulangnya mustahil lurus
Dan jidat Tuan muncul diantara subilnya.

Sampai bila sempadan derita?
Ucap Tuan berbilang tanya.
Wanita laksana rimba.
Tuan kejar , tuan tersesat.

Sambangi sesekali
Do'akan berkali-kali
Bilamana Tuan tiada di hati
Esok lusa pasti-lah Tuhan ganti.

Demikianlah ; Cinta , Tuan.


Bogor
Isnin , April 23
10:17 WIB


Duhai ,Nyonya..
Tiadalah syair ku cipta berharapkan tatap maya
Sebab rasa mustahil menyampai dusta
Ku tempuh jemah dengan ragam bahasa
meski pelik sekali ku rasa.

Halalkanlah setiap sajakku
Rengkuh sekelumit rindu
Tibanya atau keterlambatannya
Janganlah Nyonya bersambut cerca
Dimanalah Nyonya kan temui lagi macam rinduku?

Ku sambangi petang
Ku jelajahi terang
Demi Nyonya yang inshaaAllah kan daku jelang

Sudilah daku goreskan pena
Petang atau terang sama saja
Duh gemetar jua akhirnya
Nyonya-lah yang selalu jadi kalimat pertama

Jangan salahkan angin yang menerpa
Pun cinta yang ku rasa
Dustakanlah bila keduanya tervonis buta
Sebab mereka hanya taat sahaja kepada Penciptanya.

Terdirinya duniaku sederhana
Ber tiangkan agama dan ber atapkan cinta
Syair adalah dipan-dipan nya.
Dan Nyonya adalah alasannya.

Apalah bahagia dunia selain agama dan cinta?
Ah , macam gurauan dan tipuan nyatanya.
Tak cepat tak lambat
lekang waktu beban menjulang

Saat ini , tak tahu-lah daku dimana Nyonya ber mihrab
Tak paham pula daku pasal rahasia Rabb
Tapi selama Nyonya sedia dan daku mampu
InshaaAllah pijakku tak gentar dalam menunggu.

Nyonya , ridha-lah sajak ini ku tebar bak sayembara
Ditatap jutaan mata
Dihadapkan ribuan kepala
Diterjemahkan logika ataupun rasa

Tiadalah daku peduli dengan sindir dan praduga
Sebab tulisanku akan berujung jua
Dan moga-moga Nyonya-lah Tuan-nya.

April 22 , 2018
22:11 WIB







Wahai hati yang menyakiti

Bolehkah Aku sedikit memahami dirimu?
Menjejaki kaki pada labirin fikiranmu
Atau bahkan menjelajahi pola rumit imajinasimu

Wahai Pencipta luka

Sudikah Engkau sejenak menyimpan egomu?
Siapkan nuranimu dan ikutlah bersamaku ke masa itu
Melewati dimensi ruang dan waktu yang telah ku lalui dengan bersimbah peluh

Wahai Masa laluku

Disinilah kita..
Sebuah tempat dimana dirimu pernah berada
Pernah bersandar
Pernah berlindung
Bahkan pernah menyimpan rahasia

Adalah ruang hatiku tempat dimana dirimu menabung rindu
Adalah ruang hatiku tempat dimana dirimu merubah langit hitam menjadi biru
Adalah ruang hatiku tempat dimana dirimu akan kembali pulang

Bagimanakah kabarmu?
Masihkah Engkau selembut dahulu?
Memintaku menyanyikan lagu syahdu dan membacakan do’a - do’a untuk membuat indah tidur lelapmu

Dimalam itu kita bercerita tentang kebodohan kita di masa lalu
Atau hanya sekedar membahas kejahilan dan kejutan-kejutan sederhanaku yang membuatmu memeluk erat tubuhku


Sungguh
Aku masih ingat raut wajahmu pada saat itu
Sungguh...

Kau manis sekali Sayangku

Dan Sungguh

Aku masih ingat semua itu


Kita pernah bersatu janji
Bersatu imajinasi
Dan bersatu angan yang diyakini

Namun

Kau membuatku belajar
Bahwa persatuan hanya akan berujung perpecahan


Sejujurnya
Aku tak pernah mengerti
Atas apa yang Kau yakini
Hingga dirimu pergi
dan semua janjimu hilang arti

Kita berbeda dalam semua
Tapi sungguh....tidak dalam cinta

Namun hatimu keras kepala
Egomu merubah cinta menjadi kecewa

Untuk apa Kau mengobati luka Jika pada akhirnya Kau adalah sumber luka
Untuk apa Kau mengajariku terbang Jika pada akhirnya Kau berharap Aku merangkak lebih buruk dari seorang bayi

Sungguh...

Kau adalah sebuah pertanyaan
Cintamu hanyalah sebuah kata tak bermakna
Mengikat diriku dalam harapan yang tak bertuan
Aku terlepas dari realita dan terhisap dalam jurang nestapa

Wahai Bungaku yang kini sudah layu

Aku memaafkanmu
namun 
Aku tak akan pernah melupakanmu

Wahai Bungaku yang kini sudah layu

Jika hadirku adalah alasan air matamu terjatuh
Maka berbahagialah dalam ketiadaanku.



Tatkala mata terbuka
Kelam dunia kembali ku rasa
Ocehan dunia perlahan merasuk
Nafas berhembus senyum menipu

Apa yang ku nanti?
Padahal perlahan mati itu pasti
Kejadian mengandung makna dan arti
Ada beberapa hal yang harus ku pelajari

Aku benci diri selalu memaki
Aku ingin segera memperbaiki
Namun sayap tak kunjung menjadi
Kaki berdiri menatap mentari

Aku tak ingin berbicara mereka
Karna aku tak ingin kecewa
Pertarungan kata hanya berbuah duka
Sempit logika bukti bahwa kita manusia.

Sungguh bibir tak ingin berkata
Aku bukan kau ,dia ataupun mereka
Berbeda tak ingin sama
Kebusukan dunia membabi buta
Kita serupa , bukan berarti kita sama

Dunia menggantikan posisNya
Itukah yang dipuja?
Jika begitu ratapilah kehancuran Tuhamu segera
Meski aku manusia Setidaknya aku tidak buta.




Kita sampai pada hari ini
Mencoba tetap berdiri menyongsong mentari 
Beberapa dari kita ada yang mati 
Terbunuh waktu yang enggan berhenti. 

Kita adalah sisa dari kemarin 
Sekumpulan harapan yang tak pernah terharap 
Serdadu semesta yang merindukan bahagia. 

Kita adalah daun pohon yang dirindukan tanah 
Menari nari tunduk pada hembusan angin yang tak ter arah 
Tak pernah bebas dan kelak akan terlepas. 
Kemarin adalah arti 
Hari ini adalah bukti 
Dan esok adalah imajinasi. 

Bogor ,20 Maret 2016 
03:00 PM 



Aku adalah malam yang merindukan terang
Aku adalah senja yang merindukan tatapan 
Aku adalah kemungkinan yang merindukan kepastian 
Dan Aku adalah pertanyaan yang merindukan jawaban 

Kau adalah hujan Jatuh di hatiku dan aku tidak bisa menghindarinya
Aku luruh dalam derasmu 
Aku damai dalam sejukmu
Aku adalah hati yang penuh dengan luka 
Kau membasuhnya hingga tiada 
Aku adalah jiwa yang tercipta penuh dengan derita 
Kau menepisnya hingga membuatku lupa
Kau memutar balik realita hingga aku percaya pada akhirnya


Akhirnya hari ini tiba 
Dimana rasa menjelma menjadi kata 
Tergores indah dengan tinta 
Menciptakan cerita cinta yang terbungkus dalam sudut pandang yang berbeda 

Lihatlah Manisku.. 
Awan berkumpul menyaksikanmu dengan wajah yang tersipu malu

Simpulkan senyummu Malaikatku.. 
Sungguh Aku tak ingin mentari memalingkan wajah karna sedihmu

Usaplah air matamu Bidadariku 
Hidup tak akan pernah menunggu 
Maka dari itu gapailah jemariku dan berdirilah bersamaku
Mendekaplah dipangkuanku jika kakimu tak sanggup lagi untuk berpijak 
Sandarkanlah lelahmu pada bahuku 
Teriakkanlah pedih lukamu pada telingaku
Karna Kau tahu , Aku adalah milikmu..

Wahai Manisku.. 
Suatu hari nanti Aku akan melepas bumi dan menyongsong langit 
Sebelum itu terjadi Aku ingin kehadiranku ber arti





Bogor,19 Maret 2016 
04:28 PM 






Sayup angin menghempaskan beberapa helai rambut anak laki-laki itu.
Kali ini ia lemas menundukkan kepala yang dihimpit kedua lututnya.
Tangannya melingkar erat memeluk hangat.

Sedari gelap mencekam , hingga cahaya membakar malam , ia tetap setia berpangku kaki dalam diam.
Lingkar matanya redup , namun tak pernah benar-benar tertutup.

Rasa sakit batinnya merenggut rasa sakit fisiknya.
Ia benar-benar sudah tak mampu menjerit , meringis atau hanya sekedar menetes tangis.

Ia tumbuh beriringan dengan luka ,
Melangkah searah dengan air mata ,
dan bergandeng tangan dengan derita.
Maka tiadalah luka yang tak mampu ia seka.
Karna ia tak mungkin mengerti , tanpa pernah merasa.

Dunia benar-benar telah begitu kejam terhadapnya.
Berulang-ulang menggilas peduli yang ia telah usahakan.
Kebaikan yang mungkin bukan untuk dirinya sendiri.
Kebaikan yang tiada pernah manusia mengerti.

Meski lelah sudah menjadi darah ,
dan darah sudah menjadi nanah ,
Membenci takdir , ia takkan pernah.

Karna bila ia membenci , ia tak memiliki apa-apa lagi untuk dicintai.

Kesehatan sudah tiada arti baginya.
Pucat sekujur tubuhnya , luka di beberapa organnya , dan rapuh tulang belulangnya
telah membuatnya lupa caranya menjadi manusia.

Inilah kisah pahlawan yang "disalahkan".
Memeluk berbalas tusuk.
Senyuman berbalas kecurigaan.
Peduli berbalas caci.
Tuntunan berbalas tuntutan.
Mencinta berbalas luka.
Mengiba berbalas injakkan kepala.

Akhirnya , lenyaplah ia seiring dengan hujan deras.
Pergi dengan ikhlas menerima sesuatu yang tak pantas.
Bukan jengah ataupun menyerah , hanya saja ia coba terima dan pasrah ,
mungkin tanpa dirinya , dunia akan jauh lebih indah.


Sabtu , 21 April
Pukul 03:40 Pagi.