Langit utara berbias cahaya.
Terbit memancar dari mata wanita yang kehilangan timurnya.
Terkadang dipersenda oleh lembayung senja ,
Atau terbenam sebatang kara di bawah pentas asmara.
Sunyi..
Sepi..
Ia menangis sendiri.
Hati..
Hati-hati..
Tangan gagah akan datang dan pergi..
Benci..
Ia benci..
Sebab ia tak mampu membenci.
Ada berjuta kidung yang kadang mampu membuat langit saya terbelah ,
Penuh terbendung bersama air mata yang sedikit malu-malu untuk tumpah.
Di antara sajak indah dan kalimat-kalimat yang berdarah ,
Ia tegas bersumpah atas nama rumah.
Tapi sekarang..
Saya melihat cinta dalam labirin pikirannya ,
Menyudut lara berpangku rasa menunggu hujan yang tak kunjung reda.
Sendu berteman kopi yang sedikit dicampur vanilla
atau ,
do’a-do’a mesra yang entah siapa tuan-nya.
Ada rindu di pelukan bunda ,
Ada kasih di dalam hati saya ,
Tapi..
Ia tidak disana ,
Ia tidak tahu apa-apa ,
Dan saya tidak mengerti kenapa.
Kemudian Tuhan tersenyum di malam sepertiga.
Malaikat-malaikat menangis dalam tasbihnya.
Bergetar-lah jadinya singgasana Raja ,
Disambangi do’a-do’a mesra yang tercipta dari air mata bunda.
Untuk ananda ,
Yang tak kunjung nampak batang hidungnya.
Dari bunda ,
Yang mungkin takkan lagi nampak pucuk senyumnya.
Lalu ia lalu lalang mencari jalan pulang.
Ia ingin terbang , namun sayapnya hilang.
Ya Tuhan..
Rindu menjerit bukan kepalang ,
Dalam rasa bersalah yang ber-dinding bimbang.
Linang air matanya tak kunjung berhenti.
Luka hatinya silih berganti.
Ia terduduk meratapi diri ,
Memapah sesal yang liar berlari-lari.
Di sudut nestapa , ada malaikat congkak yang tengah menyulam puisi.
Urat bahagianya mati , tapi hatinya bak pelangi.
Dalam luka , ia adalah alumni.
Dalam cinta , ia adalah pemimpi.
Tiba-tiba terdengarlah teriakan dalam sunyi ,
Yang ia sangkakan itu adalah milik seorang bidadari.
Tapi ia heran setengah mati ,
Untuk apa bidadari turun ke bumi?
Ia tahu sesuatu sedang terjadi
dan ia tahu ,
ia tak bisa untuk tidak peduli.
Diam-diam malaikat itu menghampiri.
Dalam diam bidadari itu menangis lagi.
Berhenti..
Cukupi..
Kau jelek bila bersedih hati!
Kerap kali ia membuatnya tertawa geli ,
Tak jarang pula membuatnya terbakar emosi.
Dalam do’a , malaikat itu labuhkan sejuta semoga.
Dalam-dalam , sesuatu dalam hatinya dipendam.
Mereka laksana bumi dan langit.
Terpisah , namun tak bisa dipisah.
Bersama-sama melengkapi struktur semesta ,
atau bersama-sama hancur dan binasa.
Kemudian bunda kembali menggetarkan singgasana Raja.
Kembali pula bidadari itu menitik air mata.
Malaikat itu mengiba memberikan sayapnya ,
Hingga bidadari itu ceria pada segenggam percaya.
Di alinea ini ,
Fitri benar-benar tinggal menghitung hari.
Luka-luka biar-lah bosan sendiri.
Sebab perpisahan pasti akan berganti silahturahmi.
Tapi rindu ini...
ah..
tetap saja tak tahu diri.
Teruntuk bidadari yang kehilangan sayapnya ,
Kau adalah kerancuan asmara yang selalu berujung tanya.
Teruntuk wanita di penghujung senja ,
Kau adalah kerumitan rasa yang bergelimang makna ,
Yang akan saya rangkum dengan kata paling sederhana.
“
Semoga”.
Bogor ,
6/6/2018
- Zhafir K Akalanka